Langsung ke konten utama

Serial: Republik Asasia (01)

Bagian 1: Pintu Gerbang

Selimut tebal masih menutupi sekujur tubuh yang terlentang di kasur empuk di sebuah kamar. Tubuh tersebut tampak hanya diam tak bergeming, padahal kedua mata sosok di balik selimut itu tak terpejam. Sudah 2 jam ia membuka mata. Kasur empuk rupanya tak mampu mengalahkan rasa penasarannya atas apa yang telah dialaminya sejak kurang dari 20 jam yang lalu.

"Sepertinya tidurmu gak nyenyak ya?" sebuah suara tiba-tiba muncul dari balik pintu. Sosok di balik selimut tetap diam. Dia kenal suara itu, suara seorang perempuan yang umurnya lebih tua beberapa tahun dari dia. Perempuan yang baru dikenalnya belasan jam lalu. Perempuan pemilik rumah yang kasur dan selimutnya sedang dia gunakan.

"Kalo gak ngantuk, makan aja." Kembali si perempuan angkat bicara. Sosok di balik selimut bangkit dari tempat tidur. Selimut ia lilitkan ke seluruh tubuh. Hawa dingin pukul 4 pagi tak dapat dia tahan.

***

Matahari sudah setengah jalan menuju puncaknya. Sosok berselimut tadi kini tampak lain dengan setelan kaos tangan panjang warna hijau dan celana panjang hitam. Namun wajahnya sama seperti pagi tadi, menampakan kebingungan atas yang dialaminya.

"Sham!" Suara perempuan memanggil sosok tadi yang ternyata bernama Sham. "Oh. Ada apa Mbak Deff?" Tanya Sham tersadar dari lamunannya. "Cobalah keliling tempat ini, siapa tau mumetnya ilang." Saran Deffia dihiasi senyum manisnya. Sham cuma mengangguk lemas. Di pikirannya masih berputar-putar peristiwa-peristiwa aneh yang dialaminya sejak kemarin.

Rumah Deffia terletak di perbatasan. Gerbang utama hanya berjarak 10 meter dari rumahnya. Perempuan itu tinggal sendiri. Ia tak pernah jauh dari rumahnya, rupanya ia petugas penjaga gerbang. Pekerjaan sehari-harinya hanya berkebun. Berkebun ubi. Setidaknya itu yang diketahui Sham ketika mereka mengobrol saat makan pagi tadi.

Sambil berjalan ke arah gerbang, Sham hanya mengingat-ingat kejadian di hari sebelumnya. Tugas sekolah, listrik, lubang hitam, hutan, serigala putih, dan bayangan-bayangan aneh terus saja berputar-putar di kepalanya. Tak terasa gerbang telah di depan mata. Ia kembali membaca tulisan yang tertulis jelas di bagian atas gerbang yang sebagian besarnya terbuat dari logam. Tulisan itu jelas merupakan nama tempat ini. Nama tempat yang belum pernah ia dengar atau baca sebelumnya. Ia kembali mengingat-ingat, membayangkan buku atlas yang pernah di lihatnya. Membayangkan siaran TV Discovery Channel yang biasa ia tonton dari TV kabel di rumahnya. Tapi sayang, tak ada satupun yang diingatnya punya sangkut paut dengan "Republik Asasia".

(Bersambung...)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah: Paksi Janadri di Perut Bumi (Bag. 6/ Habis)

Penelusuran disepakati berlanjut ke gua ketiga. Gua Sigay Dalapan merupakan targetnya. Berbeda dengan dua gua dipenelusuran sebelumnya yang merupakan gua horisontal. Gua Sigay Dalapan merupakan gua tipe vertikal. Kemampuan SRT diperlukan disini. Mengingat hasil evaluasi kedua, akhirnya sebelum penelusuran Sigay Dalapan diadakan simulasi dan pelatihan SRT. 15.00 WIB simulasi berakhir. Tim bersiap menuju Gua Sigay Dalapan. Lokasi mulut Sigay Dalapan lumayan jauh dibanding dua gua sebelumnya. Kang Ngawir Sigi yang menjadi navigator harus berjibaku dengan semak yang menghalangi jalan menuju mulut gua. Peppy yang kali ini giliran leader dibantu Kang Ngawir Sigi segera menginstal peralatan SRT di mulut gua. Kepercayaan pada alat dan benarnya pemasangan benar-benar diperlukan disini. Peppy yang pertama kali menuruni lintasan dilanjutkan dengan Kang Ngawir Sigi. Bolong selaku penanggung jawab palog selanjutnya. Kang Dobol sang dokumenter menyusul dan terakhir selaku Cleaner, Cokor. Endris ...

Jeplak: Bismillah, Mulai Nulis Lagih..

Mengenang masa lalu selalu berujung senyum sendiri. Ya. SENDIRI. Malam ini benar-benar sendiri seperti malam-malam sendiri sebelumnya. (Musik sedih tiba-tiba terdengar). Ruang kantor tiba-tiba jadi sepi sesaat sebelum tulisan "Ruang kantor tiba-tiba jadi sepi" dituliskan. Ruang kantor memang sepi tapi tak terasa sepi hingga ditulisnya "Ruang kantor tiba-tiba jadi sepi". Jam segini memang sepi. Hanya orang kurang kerjaan yang masih duduk di sini. Aku salah satunya. Malam ini benar-benar kurang kerjaan. Biasanya memang tak pernah ada kerjaan. Tapi malam ini kekurangkerjaan itu lebih terasa kekurangkerjaannya. Film bajakan di situs tongkrongan tak ada yang menarik jari untuk diklik donlot. Chat di Whatsapp tak ada yang menarik. Tak ada yang ingatkan makan. Lagipula percuma. Aku sudah makan. Ku tengok Facebook, masih begitu saja. Isinya tulisan orang asing yang kuakui teman. Halaman profil iseng kubuka. Dan nostalgia pada tulisan dan gambar lama sedikit memberi seri...

Kisah: Paksi Janadri di Perut Bumi (Bag. 5)

Camp, 15 Februari 2014 08.00 WIB disepakati sebagai waktu memulai penelusuran kedua. Setelah sebelumnya melewati ritual biasa semisal sarapan dan stretching. Pada pukul tersebut, Kang Agen juga telah undur diri untuk kembali ke Cimahi. Untuk selanjutnya yang menjadi mentor tentu saja Kang Ngawir Sigi. Gua Cilalay menjadi target kami di penelusuran kedua ini. Cokor bertugas sebagai leader, Kang Ngawir Sigi menjadi secondman, Peppy bagian palog, Endris dokumenter, dan Bolong menjadi cleaner. Sementara penjaga camp, Kang Dobol seorang. Lokasi Cilalay yang tak jauh dari camp tak sulit ditemukan. Mulut gua tak jauh dari jalan setapak yang biasa dilalui masyarakat sekitar. Tak heran saat melakukan persiapan kami dilalui masyarakat yang hendak beraktivitas. Adzan kembali dikumandangkan. Kali ini Bolong yang menjadi muadzin. Cokor memasang tambatan webing. Satu persatu anggota tim turun ke dalam gua. Kapur tampak dominan menghiasi dinding gua. Penelusuran gua Cilalay tak jauh berbeda dib...